Skip to main content

Seminar Uang oleh BEMP EI STAIN Purwokerto

Diskursus tentang uang memang tiada habisnya. Maksud tiada habis di sini, bukan berarti tak berujung. Tapi justru lebih dikarenakan terus saling silih bergantinya orang-orang yang mempelajari eksistensinya di jagad ini.

Sebagai praktisi pendidikan dan pemerhati Ekonomi Islam atau Al-Iqtishaad tentu hal ini bagi saya pribadi kemudian menjadi tantangan tersendiri. Hal ini terungkap dari diskusi panel yang diselenggarakan oleh BEMP EI STAIN Purwokerto belum lama ini di Pondok Pesantren Darussalam Dukuhwaluh.

Istilah purba untuk uang pertama kali dikenalkan Allah SWT di dalam kitab suci Al-Qur'an dengan sebutan wariq, yaitu sebutan uang yang digunakan oleh para ashabul kahfi. Lebih lanjut Al-Qur'an menerangkan istilah-istilah seperti dinar untuk uang emas dan dirham untuk uang perak. Dalam hal ini nilai intrinsik dan nilai nominal uang disebut-sebut bersifat ekuivalen. Alhasil, uang dalam bentuk ini dipandang oleh Tuhan sendiri sebagai suatu yang ideal untuk sistem perekonomian umat manusia.

Diskusi tentang uang sangatlah menarik. Terlepas apakah kita semua memilikinya ataupun tidak. Namun yang pasti uang merupakan salah satu anugerah Allah SWT bagi umat manusia untuk bisa saling merelakan perpindahan suatu kepemilikan dan menetapkan nilai sesuatu dalam sejumlah nilai baku. Terima kasih BEMP EI STAIN Purwokerto, saya bangga dengan kerja kalian!.





Comments

Popular posts from this blog

Sejarah Desa Kroya dan Potensi Ekonominya Kini

Kroya adalah sebuah Desa di wilayah kabupaten Cilacap, Jawa Tengah,  Indonesia. Masyarakat Kroya umumnya menggunakan bahasa Banyumasan dan  bahasa jawa Surakarta dan juga bahasa Ngapak. Desa ini merupakan desa sekaligus  kecamatan berkembang dan menjadi pusat perdagangan di wilayah timur Cilacap.  Kroya juga dikenal sebagai jalur pertemuan antara jalur KA dari arah Bandung- Tasikmalaya denga jalur KA dari Cirebon-Purwokerto menuju Yogyakarta, Madiun,  dan Surabaya. Di sisi lain kroya juga memiliki sebuah pasar tradisional yang cukup besar serta  berada di tempat yang strategis. Kroya berbatasan langsung dengan desa  karangmangu di sebelah selatan, sebelah timur dengan desa Pucung, sebelah barat  dengan desa Bajing sedangkan wilayah utara dengan desa Kedawung.  Sejarah berdirinya Kroya tidak lepas dari berdirinya wilayah Karesidenan  Banyumas.  Awal mulanya Kroya merupakan sebuah wilayah kecil pada masa  Wirasaba. Kemudian setel...

Akuntansi Syariah: Aspek Sejarah, Tokoh dan Perkembangannya

Banyak anggapan sumir bahwa ilmu akuntansi itu pertama kali muncul sebagai pengetahuan bermula dari daratan Eropa. Jelas anggapan itu tidak benar. Dalam hal ini, tentu kita tidak bisa melepaskan diri dari aspek kronik kesejarahan. Akademisi barat, ironinya, tidak pernah berbicara lebih jauh tentang aspek kesejarahan ilmu akuntansi sebagai akar keilmuan yang mereka kembangkan dan menjadi hegemoni hari ini, merupakan hasil jarahan pengetahuan dari perang salib. Padahal, saat dunia Islam di Timur Tengah semenjak masa nubuwwah Nabi Muhammad SAW sebagai titik mula keilmuan modern muncul, daratan Eropa masih diselimuti kebodohan dan kehidupan yang bar-barian ( Dark Age ). Lagi-lagi, konstelasi keilmuan ini justru diperburuk oleh akademisi Muslim yang malas meneliti, dan seenak perutnya membebek pendapat barat sebagai sumber dari berbagai jenis keilmuan modern. Adnan dan Labatjo (2006) memandang, bahwa praktik akuntansi pada lembaga baitul maal di zaman Rasulullah SAW, baru berada pada taha...

Ekonomi Sufistik; Suatu Pendekatan

Ekonomi sufistik, dalam tataran tertentu, berbeda dengan apa yang dipahami banyak orang sebagai ekonomi yang Islami, yang semata-mata dipahami sebagai ekonomi yang berbasis syariah (hukum Islam). Ekonomi sufistik adalah suatu cara pandang tentang perilaku ekonomi yang dikembangkan melalui salah satu tradisi yang memiliki sejarah panjang dalam dunia intelektual Islam. Orang sering menyebutnya dengan tradisi kearifan atau hikmah. Sebelum memaparkan lebih jauh mengenai ekonomi sufistik, saya ingin menegaskan terlebih dahulu apa yang saya maksud dengan tradisi kearifan, karena ini merupakan kunci dari apa yang saya ingin katakan melalui tulisan-tulisan saya. Hal yang membedakan tradisi ini dengan pendekatan yang semata-mata legalistik syariah adalah lantaran para pemikirnya selalu mempersoalkan “sebab” dari segala sesuatu, bukan semata-mata “bagaimana” sesuatu itu terjadi. Sebaliknya, para fuqaha (ahli hukum Islam), yang begitu lantang menyuarakan syariah, lebih cenderung memberitahuka...