Konsekuensi sistem ekonomi dunia ketika dimoderasi dengan nilai-nilai adalah sirnanya mekanisme kezaliman dan rakusisme yang selama ini menjadi semangat dunia barat guna memperdaya (baca: mengekploitasi) dunia ke tiga (baca: dunia Islam). Diakui ataupun tidak, sebagai objek pelengkap penderita, negara-negara mayoritas berpenduduk Islam hanyalah dijadikan pasar dan areal pertambangan laba bagi dunia barat. Mental inlander, krisis indetitas bangsa dan rusaknya proses penyelenggaraan negara merupakan penyebab utama bagi keberlangsungan imperialisme modern ini.
Banyak anggapan sumir bahwa ilmu akuntansi itu pertama kali muncul sebagai pengetahuan bermula dari daratan Eropa. Jelas anggapan itu tidak benar. Dalam hal ini, tentu kita tidak bisa melepaskan diri dari aspek kronik kesejarahan. Akademisi barat, ironinya, tidak pernah berbicara lebih jauh tentang aspek kesejarahan ilmu akuntansi sebagai akar keilmuan yang mereka kembangkan dan menjadi hegemoni hari ini, merupakan hasil jarahan pengetahuan dari perang salib. Padahal, saat dunia Islam di Timur Tengah semenjak masa nubuwwah Nabi Muhammad SAW sebagai titik mula keilmuan modern muncul, daratan Eropa masih diselimuti kebodohan dan kehidupan yang bar-barian ( Dark Age ). Lagi-lagi, konstelasi keilmuan ini justru diperburuk oleh akademisi Muslim yang malas meneliti, dan seenak perutnya membebek pendapat barat sebagai sumber dari berbagai jenis keilmuan modern. Adnan dan Labatjo (2006) memandang, bahwa praktik akuntansi pada lembaga baitul maal di zaman Rasulullah SAW, baru berada pada taha...

Comments
Post a Comment
Silahkan berkomentar secara bijak dan bertanggungjawab.