Skip to main content

Subhat Pemikiran Khalid Basalamah dalam Konteks Kebangsaan


Khalid Basalamah merupakan penceramah lepas. Disebut lepas, sebab dalam setiap halaqahnya di banyak media elektronik hanya memberikan menjawab secara tematik dengan tanpa membangun konstruksi pemahaman agama secara utuh. Artinya tidak berupa kajian kitab yang terstruktur dan tanya-jawab seputar maqolah sebagaimana lazimnya pengajian rutinan di masyarakat. Purifikasi ajaran Islam dengan interpretasi yang dikembalikan masing-masing kepada jama’at pada fase berikutnya dapat dipastikan metodologi dakwah seperti ini akan menggiring liberalisasi pemahaman pada ajaran Islam itu sendiri.
Sebagai penganut akidah Wahabi, materi kajian keagamaan Khalid Basalamah bukan saja sontak menimbulkan pergesekan, namun juga bahkan menabrak secara ofensif terhadap konsepsi akidah umat Islam Ahlussunnah wal Jama’ah di Indonesia. Prinsip purifikasi (pemurnian ajaran) yang menjadi trendmark Wahabisme dengan jargon ‘Kembali kepada Al-Qur’an dan Sunnah’ yang diusung oleh para penganjurnya kemudian menstimulasi maraknya tuduhan tadbi’ (pelaku bid’ah) hingga takfir (tuduhan keluar dari ajaran agama) terhadap mereka yang menentang dakwah purifikasi ala Wahabi. Padahal jika merujuk kepada phenomenologi perkembangan peradaban Islam, dua perilaku inilah yang menyebabkan jumudnya umat Islam dalam ajakan perang (irhabi) yang tidak berkesudahan. Dan atau benih pemikiran radikalisme bermodus agama pada suatu negara yang damai dan berdaulat.
Kembali kepada diskursus Khalid Basalamah, sebagaimana para penganjur ajaran Wahabi lainnya yang berperan sebagai agen proxy war di Indonesia. Khalid Basalamah bukan saja sekali dua merilis pernyataan melalui media online terkait pemikirannya yang menabrak dan merusak pranata keyakinan keIslaman yang ada. Dalam sejumlah kesempatan Khalid Basalamah terbukti menunjukan ketidakberpihakannya terhadap upaya penumbuhan nilai-nilai nasionalisme, toleransi dan integrasi bangsa. Alhasil, tentu kedepannya bukannya tidak mungkin lambat laun akan menstimulasi merebaknya multi disintegrasi, baik dalam kehidupan beragama maupun bernegara.
Doktrin Khalid Basalamah menganggap sistem demokrasi dengan perangkatnya adalah sistem yang asal-asalan (ngawur):
Doktrin Khalad Basalamah bahwa perang sebagai pokok dakwah Islamiyyah:
Doktrin Khalid Basalamah menganjurkan purifikasi adat istiadat lokal, termasuk didalamnya Idul Fitri tanpa Halal biHalal:
Doktrin Khalid Basalamah menolak Nasionalisme:
Agitasi Khalid Basalamah terhadap nilai-nilai simbol kenegaraan:
Doktrin Khalid Basalamah kerjasama bilateral atas dasar akidah. Menyebut Pemerintah RI sebagai “Mereka” yang menyimpan kabut agitasi:
Demikianlah. Semoga pengungkapan ini semakin membuka mata kaum muslimin wal muslimat dimanapun mereka berada di republik ini. Indonesia merupakan negeri yang kaya akan Ulama dan muballigh dengan semangat nasionalisme yang tinggi selain Khalid Basalamah dan propagandais Wahabi lainnya yang sarat kontroversi. Semoga hati kita senantiasa terbuka dari pancaran hidayah Allah SWT. Aamiiin.

Comments

Popular posts from this blog

Sejarah Desa Kroya dan Potensi Ekonominya Kini

Kroya adalah sebuah Desa di wilayah kabupaten Cilacap, Jawa Tengah,  Indonesia. Masyarakat Kroya umumnya menggunakan bahasa Banyumasan dan  bahasa jawa Surakarta dan juga bahasa Ngapak. Desa ini merupakan desa sekaligus  kecamatan berkembang dan menjadi pusat perdagangan di wilayah timur Cilacap.  Kroya juga dikenal sebagai jalur pertemuan antara jalur KA dari arah Bandung- Tasikmalaya denga jalur KA dari Cirebon-Purwokerto menuju Yogyakarta, Madiun,  dan Surabaya. Di sisi lain kroya juga memiliki sebuah pasar tradisional yang cukup besar serta  berada di tempat yang strategis. Kroya berbatasan langsung dengan desa  karangmangu di sebelah selatan, sebelah timur dengan desa Pucung, sebelah barat  dengan desa Bajing sedangkan wilayah utara dengan desa Kedawung.  Sejarah berdirinya Kroya tidak lepas dari berdirinya wilayah Karesidenan  Banyumas.  Awal mulanya Kroya merupakan sebuah wilayah kecil pada masa  Wirasaba. Kemudian setel...

Akuntansi Syariah: Aspek Sejarah, Tokoh dan Perkembangannya

Banyak anggapan sumir bahwa ilmu akuntansi itu pertama kali muncul sebagai pengetahuan bermula dari daratan Eropa. Jelas anggapan itu tidak benar. Dalam hal ini, tentu kita tidak bisa melepaskan diri dari aspek kronik kesejarahan. Akademisi barat, ironinya, tidak pernah berbicara lebih jauh tentang aspek kesejarahan ilmu akuntansi sebagai akar keilmuan yang mereka kembangkan dan menjadi hegemoni hari ini, merupakan hasil jarahan pengetahuan dari perang salib. Padahal, saat dunia Islam di Timur Tengah semenjak masa nubuwwah Nabi Muhammad SAW sebagai titik mula keilmuan modern muncul, daratan Eropa masih diselimuti kebodohan dan kehidupan yang bar-barian ( Dark Age ). Lagi-lagi, konstelasi keilmuan ini justru diperburuk oleh akademisi Muslim yang malas meneliti, dan seenak perutnya membebek pendapat barat sebagai sumber dari berbagai jenis keilmuan modern. Adnan dan Labatjo (2006) memandang, bahwa praktik akuntansi pada lembaga baitul maal di zaman Rasulullah SAW, baru berada pada taha...

Makam Pangeran Patih Jaya Kabul Jelutung Kota Jambi

Salah satu makam pangeran, yang biasa disebut dengan Makam Keramat di Tempat Pemakaman Umum (TPU) Talang Jauh, Jelutung, Kota Jambi, ternyata berusia lebih dari 5 (lima) abad. Meski berada di pekuburan umum, namum makam yang nisannya bernama Pangeran Patih Jaya Kabul di Bukit atau Pangeran Kabul di Bukit itu, berada dalam komplek makam-makam anak keturunan raja-raja Jambi di TPU itu. Siapa Pangeran Kabul di Bukit? Dari media sosial yang diunggah akun Sabarudin Achmad pada Oktober lalu tentang sejarah singkat dan garis keturunan pangeran. Disebutkan, Raden Jaya bin Sayid Ahmad Kamil (Orang Kayo Hitam) dari ibu Ratumas Ratu Ayu (Ratu Pemalang), didaulat menjadi Raja Merangin oleh saudaranya, Panambahan Rantau Kapas (Pangeran Hilang Di Aer). Peristiwa itu terjadi sekira tahun 934 H hingga tahun 1023 H atau bersamaan dengan 1528 M sd 1615 M. Setelah lebih kurang 87 tahun bertahta di istana Ujung Tanjung Muaro Masumai, Merangin, Raden Jaya diminta kembali ke istana Tanah Pilih ...