Skip to main content

Islam 212: Sejarah dan Kiprahnya di Indonesia

Dinamika sosial agama di Indonesia seolah tidak pernah kehabisan energi untuk mengeliat. Dan Islam yang semula menjadi sebuah ajaran dan budaya yang melekat tak luput dari sasaran kepentingan politik indetitas dengan berbagai motifnya. Dalam perspektif politik, hal ini setidaknya tergambar dari jumlah partai politik yang mengatasnamakan perjuangan berasaskan Islam. Hal ini bukan hanya terjadi akhir-akhir ini saja, perebutan identitas Islam bahkan tetap terjadi hingga hari ini.

Dalam sejarah pemikiran di Indonesia, pergerakan Islam sebenarnya dapat dipetakan secara sederhana melalui ideologi yang menjadi ruh gerakannya: Sunni (Ahlussunnah wal Jama’ah), Syi’ah, Wahabiyyah dan Liberal. Sejarah pula membuktikan bahwa setiap bungkus organisasi masyarakat berlebelkan Islam, tidak lepas dari keempat ideologi tersebut yang beriringan dengan kejadian politik yang berkembang. Namun demikian, tampaknya di antara fenomena yang ada, gerakan Islam 212 merupakan fenomena yang paling memalukan di sepanjang sejarah Islam di Indonesia.

Pesanan Politik Sesaat

Gerakan Islam 212 berangkat dari ide gerakan massa komunal, utamanya di kawasan kumuh metropolitan, dengan memanfaatkan kejadian politik, emosional beragama serta ketersediaan para pendana. Semacam mimbar bebas, gerakan ini mempersilahkan siapa saja untuk mengorbit di ranah publik meskipun minim kualitas. Lantang dan tidak punya persediaan malu adalah syarat utama. Dua hal ini penting, mengingat di sisi lain terjadi penurunan semangat penegakan hukum di republik ini.

Comments

Popular posts from this blog

Sejarah Desa Kroya dan Potensi Ekonominya Kini

Kroya adalah sebuah Desa di wilayah kabupaten Cilacap, Jawa Tengah,  Indonesia. Masyarakat Kroya umumnya menggunakan bahasa Banyumasan dan  bahasa jawa Surakarta dan juga bahasa Ngapak. Desa ini merupakan desa sekaligus  kecamatan berkembang dan menjadi pusat perdagangan di wilayah timur Cilacap.  Kroya juga dikenal sebagai jalur pertemuan antara jalur KA dari arah Bandung- Tasikmalaya denga jalur KA dari Cirebon-Purwokerto menuju Yogyakarta, Madiun,  dan Surabaya. Di sisi lain kroya juga memiliki sebuah pasar tradisional yang cukup besar serta  berada di tempat yang strategis. Kroya berbatasan langsung dengan desa  karangmangu di sebelah selatan, sebelah timur dengan desa Pucung, sebelah barat  dengan desa Bajing sedangkan wilayah utara dengan desa Kedawung.  Sejarah berdirinya Kroya tidak lepas dari berdirinya wilayah Karesidenan  Banyumas.  Awal mulanya Kroya merupakan sebuah wilayah kecil pada masa  Wirasaba. Kemudian setel...

Akuntansi Syariah: Aspek Sejarah, Tokoh dan Perkembangannya

Banyak anggapan sumir bahwa ilmu akuntansi itu pertama kali muncul sebagai pengetahuan bermula dari daratan Eropa. Jelas anggapan itu tidak benar. Dalam hal ini, tentu kita tidak bisa melepaskan diri dari aspek kronik kesejarahan. Akademisi barat, ironinya, tidak pernah berbicara lebih jauh tentang aspek kesejarahan ilmu akuntansi sebagai akar keilmuan yang mereka kembangkan dan menjadi hegemoni hari ini, merupakan hasil jarahan pengetahuan dari perang salib. Padahal, saat dunia Islam di Timur Tengah semenjak masa nubuwwah Nabi Muhammad SAW sebagai titik mula keilmuan modern muncul, daratan Eropa masih diselimuti kebodohan dan kehidupan yang bar-barian ( Dark Age ). Lagi-lagi, konstelasi keilmuan ini justru diperburuk oleh akademisi Muslim yang malas meneliti, dan seenak perutnya membebek pendapat barat sebagai sumber dari berbagai jenis keilmuan modern. Adnan dan Labatjo (2006) memandang, bahwa praktik akuntansi pada lembaga baitul maal di zaman Rasulullah SAW, baru berada pada taha...

Ekonomi Sufistik; Suatu Pendekatan

Ekonomi sufistik, dalam tataran tertentu, berbeda dengan apa yang dipahami banyak orang sebagai ekonomi yang Islami, yang semata-mata dipahami sebagai ekonomi yang berbasis syariah (hukum Islam). Ekonomi sufistik adalah suatu cara pandang tentang perilaku ekonomi yang dikembangkan melalui salah satu tradisi yang memiliki sejarah panjang dalam dunia intelektual Islam. Orang sering menyebutnya dengan tradisi kearifan atau hikmah. Sebelum memaparkan lebih jauh mengenai ekonomi sufistik, saya ingin menegaskan terlebih dahulu apa yang saya maksud dengan tradisi kearifan, karena ini merupakan kunci dari apa yang saya ingin katakan melalui tulisan-tulisan saya. Hal yang membedakan tradisi ini dengan pendekatan yang semata-mata legalistik syariah adalah lantaran para pemikirnya selalu mempersoalkan “sebab” dari segala sesuatu, bukan semata-mata “bagaimana” sesuatu itu terjadi. Sebaliknya, para fuqaha (ahli hukum Islam), yang begitu lantang menyuarakan syariah, lebih cenderung memberitahuka...