Skip to main content

Siapa Pahlawan Generasi Hari Now?


Krisis keteladanan membuat generasi muda hari ini mencari siapapun yang membuat hidup mereka nyaman sebagai pahlawan. Minimnya literasi di sisi lain melamurkan fantasi pemuda hari ini akan manifestasi sosok pahlawan. Atau, ada saja anggapan abu-abu yang menyebutkan bahwa 'siapapun berhak dan layak jadi pahlawan, asalkan berjasa dalam hidupmu'. Semudah itu. Profil pahlawan yang mewah disajikan oleh para tetua, dan dimaknai secara remeh oleh para penikmat kemerdekaan hari ini. Dan realitas itu nyata.

Pahlawan adalah mereka yang terbukti secara nyata berjasa terhadap kemerdekaan bangsa ini dari kolonialisasi bangsa Eropa. Ini terminologi paling purba tentang konsep pahlawan. Para muda dan remaja membaca terminologi itu sebagai konsep mati, artinya tiada celah kemungkinan bagi mereka untuk menjadi sosok pahlawan. Seolah Tuhan menakdirkan mereka lahir di alam pemuja, bukan zaman pujaan. Maka tak heran jika sebahagian mengkritisi konsep ini, dan sebahagian sisanya bersikap apatis tak peduli tentang apa, siapa dan bagaimana ide pahlawan itu diadakan, dan proses-proses perawatan ingatan tentangnya.

Ada lagi, pahlawan adalah mereka yang mengisi kemerdekaan pasca proklamasi kemerdekaan bangsa ini berpuluh tahun silam. Jadi, bisa siapapun. Dan tentang apapun. Maka tak heran jika setiap segmen sosial hari ini memiliki pahlawan sebagai idola masing-masing. Ada yang secara idealis berkutat pada konsep pahlawan di masa lalu, meski mereka tak mengenalnya dengan baik, namun tetap menerimanya karena tak mau ambil pusing mendefenisikan pahlawan secara analogis. Dan ada pula yang mempahlawankan siapapun sebagai refleksi kehidupannya, meskipun itu tokoh anime sekalipun. Miris, bukan?

Bagaimana jiwa kepahlawanan pada seseorang itu terbentuk? Benarkah itu semata-mata karena kesadaran akan pentingnya lepas dari belenggu penjajahan atas bangsanya, bukan berdasarkan traumatik pribadi atas perlakuan bangsa Eropa terhadap kehidupannya? Ada lagi yang membuka diskursus demikian. Pertanyaan usil begini tentu membutuhkan kajian jawaban yang serius, jangan-jangan benar demikian. Ini jelas sebuah persoalan.


Comments

Popular posts from this blog

Sejarah Desa Kroya dan Potensi Ekonominya Kini

Kroya adalah sebuah Desa di wilayah kabupaten Cilacap, Jawa Tengah,  Indonesia. Masyarakat Kroya umumnya menggunakan bahasa Banyumasan dan  bahasa jawa Surakarta dan juga bahasa Ngapak. Desa ini merupakan desa sekaligus  kecamatan berkembang dan menjadi pusat perdagangan di wilayah timur Cilacap.  Kroya juga dikenal sebagai jalur pertemuan antara jalur KA dari arah Bandung- Tasikmalaya denga jalur KA dari Cirebon-Purwokerto menuju Yogyakarta, Madiun,  dan Surabaya. Di sisi lain kroya juga memiliki sebuah pasar tradisional yang cukup besar serta  berada di tempat yang strategis. Kroya berbatasan langsung dengan desa  karangmangu di sebelah selatan, sebelah timur dengan desa Pucung, sebelah barat  dengan desa Bajing sedangkan wilayah utara dengan desa Kedawung.  Sejarah berdirinya Kroya tidak lepas dari berdirinya wilayah Karesidenan  Banyumas.  Awal mulanya Kroya merupakan sebuah wilayah kecil pada masa  Wirasaba. Kemudian setel...

Akuntansi Syariah: Aspek Sejarah, Tokoh dan Perkembangannya

Banyak anggapan sumir bahwa ilmu akuntansi itu pertama kali muncul sebagai pengetahuan bermula dari daratan Eropa. Jelas anggapan itu tidak benar. Dalam hal ini, tentu kita tidak bisa melepaskan diri dari aspek kronik kesejarahan. Akademisi barat, ironinya, tidak pernah berbicara lebih jauh tentang aspek kesejarahan ilmu akuntansi sebagai akar keilmuan yang mereka kembangkan dan menjadi hegemoni hari ini, merupakan hasil jarahan pengetahuan dari perang salib. Padahal, saat dunia Islam di Timur Tengah semenjak masa nubuwwah Nabi Muhammad SAW sebagai titik mula keilmuan modern muncul, daratan Eropa masih diselimuti kebodohan dan kehidupan yang bar-barian ( Dark Age ). Lagi-lagi, konstelasi keilmuan ini justru diperburuk oleh akademisi Muslim yang malas meneliti, dan seenak perutnya membebek pendapat barat sebagai sumber dari berbagai jenis keilmuan modern. Adnan dan Labatjo (2006) memandang, bahwa praktik akuntansi pada lembaga baitul maal di zaman Rasulullah SAW, baru berada pada taha...

Ekonomi Sufistik; Suatu Pendekatan

Ekonomi sufistik, dalam tataran tertentu, berbeda dengan apa yang dipahami banyak orang sebagai ekonomi yang Islami, yang semata-mata dipahami sebagai ekonomi yang berbasis syariah (hukum Islam). Ekonomi sufistik adalah suatu cara pandang tentang perilaku ekonomi yang dikembangkan melalui salah satu tradisi yang memiliki sejarah panjang dalam dunia intelektual Islam. Orang sering menyebutnya dengan tradisi kearifan atau hikmah. Sebelum memaparkan lebih jauh mengenai ekonomi sufistik, saya ingin menegaskan terlebih dahulu apa yang saya maksud dengan tradisi kearifan, karena ini merupakan kunci dari apa yang saya ingin katakan melalui tulisan-tulisan saya. Hal yang membedakan tradisi ini dengan pendekatan yang semata-mata legalistik syariah adalah lantaran para pemikirnya selalu mempersoalkan “sebab” dari segala sesuatu, bukan semata-mata “bagaimana” sesuatu itu terjadi. Sebaliknya, para fuqaha (ahli hukum Islam), yang begitu lantang menyuarakan syariah, lebih cenderung memberitahuka...