Skip to main content

Mudik! Inspirasi Pemudik di Kampung Halaman


Mudik. Kembali ke kampung halaman. Tentu, ada romansa nostalgia yang ingin dirawat setelah sekian jauh mengembara. Bertemu dengan teman dan sanak famili guna sekedar berbagi cerita. Pahit getir dan pencapaian nun di tanah perantauan. Atau, sebatas ingin mentransmisikan kisah lalu kepada anak dan istri. 

Semua telah berubah, itu faktanya. Setiap kerinduan perantau tak memiliki kadar yang sama. Bahkan, tanah rantau banyak merubah watak dan gaya hidup banyak pemudik. Namun, tetap ada yang tak bisa berubah. 

Terkadang muncul rasa, terasing di dusun sendiri. Ada yang karena dirantau terlalu larut dimanja oleh fasilitas modern. Ada yang karena kehilangan sosok kharismatik magnet kerinduan di kampung halaman. Ada yang merasa, kampung ini sekedar masa lalu yang tak lagi menjadi level setelah pencapaiannya di perantauan. Aih, tengik. 

Di dusun, bersikap biasa sajalah. Orang-orang desamu tetap memandangmu anak-anak kampung yang baru saja kemarin berlarian bermain layangan. Anak-anak yang kemarin masih berangkat mengaji di langgar, sembari menyulut petasan. Mereka tak kenal bumi rantaumu. Pengetahuan itu, hanya memperkeruh alam pikir desa mereka yang sederhana. 

Jangan ajak orang-orang desa bercengkrama pada jam kerja mereka. Seolah kau lupa bagaimana seharusnya ritme hidup di sana. Perbanyaklah mendengar dan menyimak, ketimbang gacor berbicara. Dan jika hasrat ceramahmu telah meronta, sebaiknya tidur sajalah. Kampungmu telah cukup bising dengan riuh rendah suasana lebaran. 


Comments

Popular posts from this blog

Sejarah Desa Kroya dan Potensi Ekonominya Kini

Kroya adalah sebuah Desa di wilayah kabupaten Cilacap, Jawa Tengah,  Indonesia. Masyarakat Kroya umumnya menggunakan bahasa Banyumasan dan  bahasa jawa Surakarta dan juga bahasa Ngapak. Desa ini merupakan desa sekaligus  kecamatan berkembang dan menjadi pusat perdagangan di wilayah timur Cilacap.  Kroya juga dikenal sebagai jalur pertemuan antara jalur KA dari arah Bandung- Tasikmalaya denga jalur KA dari Cirebon-Purwokerto menuju Yogyakarta, Madiun,  dan Surabaya. Di sisi lain kroya juga memiliki sebuah pasar tradisional yang cukup besar serta  berada di tempat yang strategis. Kroya berbatasan langsung dengan desa  karangmangu di sebelah selatan, sebelah timur dengan desa Pucung, sebelah barat  dengan desa Bajing sedangkan wilayah utara dengan desa Kedawung.  Sejarah berdirinya Kroya tidak lepas dari berdirinya wilayah Karesidenan  Banyumas.  Awal mulanya Kroya merupakan sebuah wilayah kecil pada masa  Wirasaba. Kemudian setel...

Akuntansi Syariah: Aspek Sejarah, Tokoh dan Perkembangannya

Banyak anggapan sumir bahwa ilmu akuntansi itu pertama kali muncul sebagai pengetahuan bermula dari daratan Eropa. Jelas anggapan itu tidak benar. Dalam hal ini, tentu kita tidak bisa melepaskan diri dari aspek kronik kesejarahan. Akademisi barat, ironinya, tidak pernah berbicara lebih jauh tentang aspek kesejarahan ilmu akuntansi sebagai akar keilmuan yang mereka kembangkan dan menjadi hegemoni hari ini, merupakan hasil jarahan pengetahuan dari perang salib. Padahal, saat dunia Islam di Timur Tengah semenjak masa nubuwwah Nabi Muhammad SAW sebagai titik mula keilmuan modern muncul, daratan Eropa masih diselimuti kebodohan dan kehidupan yang bar-barian ( Dark Age ). Lagi-lagi, konstelasi keilmuan ini justru diperburuk oleh akademisi Muslim yang malas meneliti, dan seenak perutnya membebek pendapat barat sebagai sumber dari berbagai jenis keilmuan modern. Adnan dan Labatjo (2006) memandang, bahwa praktik akuntansi pada lembaga baitul maal di zaman Rasulullah SAW, baru berada pada taha...

Ekonomi Sufistik; Suatu Pendekatan

Ekonomi sufistik, dalam tataran tertentu, berbeda dengan apa yang dipahami banyak orang sebagai ekonomi yang Islami, yang semata-mata dipahami sebagai ekonomi yang berbasis syariah (hukum Islam). Ekonomi sufistik adalah suatu cara pandang tentang perilaku ekonomi yang dikembangkan melalui salah satu tradisi yang memiliki sejarah panjang dalam dunia intelektual Islam. Orang sering menyebutnya dengan tradisi kearifan atau hikmah. Sebelum memaparkan lebih jauh mengenai ekonomi sufistik, saya ingin menegaskan terlebih dahulu apa yang saya maksud dengan tradisi kearifan, karena ini merupakan kunci dari apa yang saya ingin katakan melalui tulisan-tulisan saya. Hal yang membedakan tradisi ini dengan pendekatan yang semata-mata legalistik syariah adalah lantaran para pemikirnya selalu mempersoalkan “sebab” dari segala sesuatu, bukan semata-mata “bagaimana” sesuatu itu terjadi. Sebaliknya, para fuqaha (ahli hukum Islam), yang begitu lantang menyuarakan syariah, lebih cenderung memberitahuka...