Skip to main content

Posts

Leeuwarden, 'Monumen Hindia'; Tugu Kematian Batalyon Fresland

'Monumen Hindia' di gedung pemerintah Provinsi Leeuwarden diselenggarakan guna mengenang tiga puluh serdadu 'Batalyon Friesland' yang meninggal dunia pada periode 1945-1948 di bekas kekuasaan Hindia Belanda. Nama-nama dari ketiga puluh korban tersebut adalah: Bauke Attema, Egbert Beverdam, Hinne Brander, Klaas Breeuwsma, Auke Bruinsma, Sjoerd Auke Buma, Lieuwe Greijdanus, Arend de Haan, Frederik Hendrik Latuparissa, Antonius Diederik van der Kley, Willem Koenes, Wiltje Kroese, Andele Lautenstrabach , Klaas Machiela, Jan Moeselaar, Klaas Ooms, Gerrit Oostenveld, Eise Pool, Metske Rekker, Ferdinand Taconis Salverda, Diedert Schilstra, Marinus Schönthaler, Gerard Simon, Jacob Strikwerda, Hessel Visser, Katharinus van der Weide, Sanne Wind dan Cornelis. Bauke Attema lahir pada 2 Maret 1919 di Groenterp. Ia dibunuh sebagai kopral pada 3 November 1947 di sekitar Klampok, ketika truk yang diangkutnya bersama dengan Moeselaar, Schönthaler dan Breeuwsma terkena bom pesawat. Ia d...

Derajat Cita-Cita Manusia

Orang yang rendah cita-citanya tidak akan peduli kemana hawa nafsu akan menyeretnya. Sehingga ia tidak tahu, melebihi ketidaktahuan orang-orang bodoh, dan masuk ke bawah kendali kekang orang-orang yang keluar dari agama. Maka pilihlah kebaikan ataukah kebinasaan, keridhaan ataukah kemurkaan, dekat ataukah jauh, bahagia ataukah celaka, syurga Na’im ataukah neraka Jahim . Orang-orang yang rendah cita-citanya, yakni mereka yang enggan ber mujahadah atau serius mengentaskan nafsunya dari perilaku rendah. Ia tak peduli ke mana hawa nafsu menyeretnya. Ia tak akan peduli apakah Allah mendekatkannya atau justru menjauhinya. Dan, sekalipun ia tahu perintah dan laranganNya, ia tidak akan mematuhinya. Maka, jika kita telah mengetahui bagaimana kriteria orang-orang yang luhur cita-citanya, dan orang-orang yang rendah cita-citanya. Maka kita akan dihadapkan pada salah satu dari dua pilihan: kebaikan ataukah kebinasaan; keridhaan ataukan kemurkaan; dekat kepada Allah atau jauh dariNya; bahagia...

'Kuburan Landa' di Kalilandak

Makam Ki Ageng Tunggul Wulung Kalilandak Desa Kalilandak berlokasi di Kecamatan Purwareja Klampok, Kabupaten Banjarnegara. Posisinya persis berseberangan dengan Kota Lama Purwareja Klampok. Berseberangan jalan lintas provinsi antara Banyumas dengan Wonosobo. Dan berhadapan persis dengan tangsi-tangsi kolonial Belanda, dan Jepang. Pada kesempatan sebelumnya, kita sudah membahas tentang Ki Tunggul Wulung, pasukan kaveleri Diponegoro yang diutus sebagai pengajar agama dan kemasyarakatan pada desa-desa yang mereka lewati. Tulisan yang menjawab mengapa banyak petilasan Tunggul Wulung di antero Jawa Tengah. Sebenarnya, ada dua tokoh menarik lainnya di Desa Kalilandak, Purwareja Klampok. Mereka adalah Nyi Ronggeng dan Mbah Brantayudha. Tokoh yang terakhir, disebut-sebut pada pertengahan tahun 1960an, makamnya kerap memancarkan cahaya api. Hal ini banyak disaksikan penduduk grumbul Winong. Semoga di lain waktu, ada cukup data dan saksi guna mengungkapnya. Kembali pada pembahasan, tentang kerko...

Tanpa Harga, Mereka Sedang Pameran. Bukan Berjualan!

Berniaga, itu tidak sedang berteka-teki. Padahal, dengan komoditas yang sedang engkau tawarkan. Tanpa harga, banyak sekali peminat yang berpaling dari lapakmu. Mereka enggan, untuk sekedar tahu harga saja musti berbusa-busa di kolom inbox atau WApri. Kegagalan negoisasi pertama di ruang pesan pribadi, kerap kali menimbulkan traumatis untuk menawar kembali untuk komoditas yang lainnya. Pahami benar hal itu. Terbukalah, jadikan ruang marketplace yang sehat dan menenteramkan bagi semua. Sebenarnya, apa yang sedang engkau sembunyikan? Atau kau bersembunyi dari siapa? Jujur sajalah, bertindak amanah. Itu lebih baik bagi semua. Bukankah engkau juga mengetahui, jika menyembunyikan harga itu suatu perilaku gharar dalam perniagaan. Dan itu dilarang keras dalam ajaran agama. Sementara, gharar itu dekat sekali dengan penipuan yang merugikan. Itu, bukan maksudmu, bukan? Jika komoditas yang kau jual adalah barang titipan. Dan dirimu mengharapkan selisih keuntungan dari harga jualnya. Bukankah jik...

Musibah, Resiko Kampung Tanpa Tahlilan

Kampung, atau dusun dan bahkan kompleks perumahan yang hangat dengan gema Al-Qur'an dan dzikir dari para penduduknya akan mengundang beberapa keadaan. Hal ini sebagai cermin iman dan ketakwaan masyarakatnya kepada Allah 'azza wa jalla . Sementara, ketakwaan suatu kaum penduduk kampung, dusun atau kompleks perumahan menjadi syarat turunnya keberkahan. Hal ini sebagaimana peringatan Al-Qur'an dalam s urat Al Araf ayat 96 yang menyebutkan: وَلَوْ أَنَّ أَهْلَ الْقُرَىٰ آمَنُوا وَاتَّقَوْا لَفَتَحْنَا عَلَيْهِمْ بَرَكَاتٍ مِنَ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ وَلَٰكِنْ كَذَّبُوا فَأَخَذْنَاهُمْ بِمَا كَانُوا يَكْسِبُونَ Sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, niscaya Kami akan membukakan untuk mereka berbagai keberkahan dari langit dan bumi. Akan tetapi, mereka mendustakan (para rasul dan ayat-ayat Kami). Maka, Kami menyiksa mereka disebabkan oleh apa yang selalu mereka kerjakan . Juga dalam bagian yang lain peringatan pentingnya takwa dan membangun selalu ingatan terhada...

Dr. KH. Chariri Shofa, Sang Qudwah.

#1 Saya tergolong ummat Kanjeng Nabi Muhammad SAW yang terlahir sedemikian jauh kurunnya dari zaman kehidupan beliau yang gilang gemilang. Termasuk anak zaman yang sulit mengumpulkan secara utuh akan gambaran perilaku mulia beliau yang bertebaran pada tebalnya kitab-kitab hadits. Namun, saya bersyukur. Setidaknya saya masih menemukan bayang-bayang beliau Sang Musthofa, pada diri Bapak.  #2 Lima tahun saya, juga istri dan anak-anak, hidup satu atap dengan beliau. Melihat persis haliyyah sehari-hari. Salah satu amaliah rutin bapak ialah qiyamul lail, shalat malam. Saya kerap menemani kawan, atau layanan tamu sampai larut malam. Sampai-sampai, jika lewat larut malam, pembicaraan kami musti berbisik-bisik. Di sisi dalam ndalem, terdengar gemericik air kran lalu lamat-lamat suara takbir. Kami, para muda, cuma bisa malu kepada diri sendiri. 

Adipati Mersi: Aspek Historis Desa Mersi Purwokerto

      Pada periode Hindu Buddha di Nusa Jawa, disebutkan hegemoni Pasir Luhur atas wilayah yang jelas, yaitu sebelah utara sungai Serayu. Pada masa Adipati Kandha Daha Pasirluhur bersekutu dengan 25 kadipaten kecil di sekitar daerah aliran sungai Serayu. Salah satunya yaitu Kadipaten Mersi yang dipimpin oleh Adipati Mersi. Adipati Mersi mempunyai rivalis dengan Adipati Kabakan yang dilestarikan oleh cerita masyarakat Arcawinangun. Kabakan menunjukan wilayah yang dikuasai oleh Sang Baka. Pada masa perkelahian, Adipati Mersi dibunuh dan dibuang di aliran sungai yang berada di bawah tanah yang kemudian ditandai dengan situs terbuat dari batu.       Masyarakat Arcawinangun yang sudah melihat saluran tersebut memberikan kesaksian yang bermacam-macam. Terdapat berbagai cerita seperti, dikisahkan bahwa di atas saluran tersebut dipahat huruf jawa kuno, ada lagi yang bercerita bahwa bukan huruf jawa tetapi huruf arab yang ditulis. Jasad Adipati Mersi muncul men...